Minggu, 09 Juli 2017

POLA PENDIDIKAN ISLAM DI ANDALUSIA DAN SISILIA

POLA PENDIDIKAN ISLAM DI ANDALUSIA DAN SISILIA

Abstrak
Islam  sebagai  agama  universal  memberikan  pedoman  hidup  bagi manusia menuju kehidupan yang bahagia, yang pencapainnya sangat bergantung pada  pendidikan,  sebab  pendidikan  merupakan  kunci  pembuka  kehidupan manusia,  oleh  karena  itu  Islam  dan  pendidikan  mempunyai  hubungan  yang sangat  erat,  hubungan  tersebut  bersifat  organis-fungsional,  dimana  pendidikan difungsikan  sebagai  alat  untuk  mencapai  ke-Islaman  dan  Islam  menjadi kerangka  dasar  serta  pondasi  pengembangan  pendidikan  Islam.  Pendidikan tumbuh dan berkembang seiring dengan tumbuh dan berkembangnya Islam, hal ini  menunjukan  bahwa  pendidikan  tidak  bisa  dilepaskan  dari sejarah Islam di eropa yaitu di Andalusia dan Sisilia. Sehingga pada gilirannya Andalusia dan Sisilia mampu menumbuh kembangkan berbagai khasanah keilmuan yang sekarang ini  terasa  manfaatnya,  terutama  bagi  dunia  Eropa  yang  mampu  menggali  dan mengembangkannya.
Kata kunci :  Pendidikan, Andalusia, Sisilia

PENDAHULUAN
Pendidikan  merupakan  mata  rantai  peradaban Islam yang  penting  dalam  pertumbuhan  dan perkembangannya.  Oleh  karena  itu,  mempelajari perkembangan  pendidikan  secara  sempurna  menghendaki  kepada  mempelajari pendidikan Islam yang telah dikembangkan oleh orang-orang Islam. Sebab yang mendasari  pendidikan  Islam  salah  satunya  adalah  dasar  historis  (penelusuran sejarah)  dimana  dasar  historis  ini  merupkan  suatu  dasar  yang  berorientasi  pada pengalaman  pendidikan  masa  lalu,  dengan  demikian  dasar  ini  akan  dijadikan acuan untuk memprediksi dan menjadi acuan untuk pendidikan yang lebih baik dimasa yang akan datang.  
Ketika  dinasti  Umayyah  Damaskus  runtuh,  cucu  khalifah  Muawiyah kesepuluh  Hisyam  Ibn  Abd  al-Malik  Abd  al-Rakhman.  Memproklamirkan Andalusia  sebagai  Negara  berdiri  sendiri  pada  tahun  756 M,  sejak ploklamasi  itu  babak  baru  Andalusia  sebagai  Negara  berdaulat  dibawah kekuasaan Dinasti Umayyah yang ber-ibu kota di Cardova sampai tahun 422 H/ 1031 M. Abd  al-Rakhman  menginjakan  kakinya  di  Andalusia  setelah  lolos  dari upaya  pembunuhan  atas  dirinya  ketika  terjadi  revolusi  Dinasti  Abbasyiah sekitar  tahun  132  H  /  750  M, ia  berhasil  meletakan  sendi dasar  yang  kokoh  bagi  tegaknya  Daulah  Umayyah  II  di  Andalusia  selama  32 tahun. Selama kekuasaan Daulah Umayyah II di Andalusia terjadi banyak sekali kemajuan, terutama dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.
A.      SEJARAH ISLAM DI ANDALUSIA DAN SISILIA
Spanyol dan Sisilia pernah dikuasai oleh pemerintahan Islam, era ini dapat di kelompokkan menjadi enam periode, yaitu:
1.      Periode 1 (711-755 M), wali yang di angkat oleh khalifah Daulah Umayyah di Damaskus.
2.      Periode 2 (755-912 M), diperintah oleh amir (gubernur) tetapi tidak tunduk kepada Daulah Bani Abbasiah di Baghdad.
3.      Periode 3 (912-1013 M), diperintah Abdurrahman 3 yang bergelar Al-Nashir, sampai munculnya Mulk at Thawaif.
4.   Periode 4 (1013-1086 M), Spanyol terpecah menjadi tiga puluh negara-negara kecil yang dikuasai oleh raja-raja setempat.
5.  Periode 5 (1086-1248 M), dikuasai oleh dinasti Al-Murabitun dan Al-muwahidun (Al-muwahidun akhirnya runtuh dengan kemenangan pihak Kristen di Las Navas dan Tolosa, dan mereka kembali ke Afrika Utara).
6.  Periode 6 (1248-1492 M), Islam hanya berkuasa di Granada di bawah Daulah Bani Ahmar, namun kekuasaan Islam ini berhasil pula di rebut oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dari pihak Kristen.[1]
Delapan abad Islam berkuasa di Spanyol dan empat abad di Sisilia, telah mengubah wajah pendidikan ketika itu, karena pendidikan Islam telah terlaksana dengan baik dan sistematis pada dua daerah ini. Adapun sejarah masuknya Islam di Andalusia dan Sisilia sebagai berikut:
1.    Sejarah Islam di Andalusia
Islam pernah memimpin dan berjaya di Andalusia yang pada hari ini mencakup wilayah Spanyol dan Portugal selama hampir 800 tahun. Penaklukan Andalusia tidak terlepas atas jasa tiga orang pemimpin yaitu Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nusair. Di awali oleh Tharif yang dikenal sebagai perintis dan penyelidik, ia dan pasukannya berjumlah 500 orang menyeberangi selat diantara Maroko dan benua Eropa dengan menaiki 4 buah kapal yang disediakan oleh Julian. Kemudian penaklukan selanjutnya diteruskan oleh Thariq bin Ziyad pada tahun 711 M atas perintah Musa bin Nusair Gubernur Afrika Utara dibawah pemerintahan Al-Walid I (705-715 M) dari dinasti Umayyah yang berkedudukan di Damaskus.[2]
 Pada  masa  itu  ilmu  pengetahuan  muslim  dari  Andalusia  mengalir kenegara-negara  eropa  Kristen.  Melalui  kelompok-kelompok  pelajar  Eropa yang pernah menuntut ilmu di Universitas Cardova, Malaga, Granada, sevilla atau  lembaga-lembaga  ilmu  pengetahuan  lainnya  di  Andalusia,  dengan demikian  besar  sekali  peranan  Andalusia  dalam  Mengantarkan  Eropa memasuki periode baru masa kebangkitan. Salah  satu  faktor  yang  mendorong  pesatnya  perkembangan  keilmuan  di Andalusia seperti adanya seorang filosof, astronom, penyair, musisi, sejarawan, fiqih, theology,  ahli  bahasa,  dokter,  dan  sebagainya,  dikarenakan  penuntutan  ilmu di dalam dunia kuno dari abad pertengahan teristimewa dalam dunia Islam. Pada  masa  pemerintahan  dinasti  Umayyah  II  ini,  lembaga-lembaga pendidikan,  banyak  dibangun  diberbagai  penjuru  kerajaan,  sejak  dari  kota-kota besar sampai ke desa-desa. Hal ini terbukti pada masa pemerintahan al-Mustanshir  yang  memiliki  800  sekolah,  70  perpustakaan  pribadi  disamping perpustakaan  umum,  dimana  diriwayatkan  kumpulan  buku-buku  tersebut mencapai  400.000  eksemplar,  lebih  lanjut  al-Mustansir  mendengar  bahwa di Irak  abu  al-Faraz  al-Isbahani  sedang  menyusun  kitab  al-Ghani,  Ia  mengirim uang  1.000  dinar  kepada  pengarangnya,  untuk  mendapat  copy  pertama  dari buku  tersebut.  Oleh  karena  itu  kitab  al-Afgani  ini  lebih  dulu  dibaca  di Andalusia dari pada di Irak dimana tempat pengarangnya. Pada  masa  Dinasti  Umayyah  II  ini  banyak  terdapat  ilmuan  ternama seperti,  dalam  bidang  fiqih  (Malik  ibn  Anas)  sebagai  pengarang  al-Muwatta yang  memuat  1700  hadits,  Abu  Qasim  Maslamah  Dianggap  sebagai  orang yang memperkenalkan Rasail Ikhwan al-Shafa ke-Eropa, dan Spayol, Abu al-Qasim al-Zahrawi Dikenal dengan nama Abulcacis, ia dikenal sebagai dokter bedah,  perintis  ilmu  penyakit  telinga  dan  pelopor  ilmu  penyakit  kulit, karyanya  yang  berjudul  “al-Tashrif  li  man  Ajaza  an  al  Ta’lif”  yang  pada abad  ke  12  diterjemahkan  oleh  Cremona  dan  dicetak  ulang  di  genua  (1497 M),  Basle  (1541  M)  dan  di  Oxford  (1778),  yang  kemudian  buku  tersebut tersebar dan menjadi literatur di Universitas Eropa.[3]
Dalam sejarah dan literatur yang ada mengisyaratkan bahwa, kedigdayaan Islam di Andalusia hanya mampu bertahan sekitar delapan abad saja, kalau di hitung memang waktu yang cukup panjang dan terjadinya beberapa kali pergantian dinasti. Namun pada akhirnya datang juga masa yang ditakuti yaitu masa-masa kehancuran, yang sampai pada hari ini masih belum bangkit dari keluluhan itu. Di antara penyebab keruntuhan peradaban dan pendidikan Islam di Andalusia antara lain: 
a.    Konflik Agama
Pada akhir-akhir kemajuan peradaban pendidikan Islam di Andalusia, telah muncul kepermukaan paham-paham dan perbedaan keyakinan. Kondisi yang tidak menguntungkan bagi umat Islam telah membuat “berani” umat kristiani menampakkan dirinya kepermukaan. Bahkan terang-terangan telah pula berani menentang kebijakan penguasa Islam di kala itu. Para penguasa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna, mereka sudah merasa puas dengan menagih upeti dari kerajaan-kerajaan kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hierarki tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata. Kondisi seperti ini dapat diprediksi, bahwa kelengahan umat Islam termasuk toleransi dan wewenang yang diberikan kepada umat Kristen telah dimanfaatkan untuk mencari kelemahan Islam di saat Islam lengah di kala itu. Hal ini diperkuat pula oleh al-Qur‟an bahwa umat Kristen itu tidak akan pernah diam dan senang, sebelum Islam bertekuk lutut kepadanya. 
b.    Ideologi Perpecahan
Istilah ‘ibad dan muwalladu perendahan derajat kepada orang pribumi  yang mukallaf selalu dilakukan oleh orang-orang Islam keturunan Arab, sehingga kelompok-kelompok etnis nonArab selalu menimbulkan kegaduhan dan sering menggerogoti serta merusak perdamaian atas celaan dan pemisahan kasta tersebut. Kultur sosial kemasyarakatan ketika itu amat berpeluang besar terjadinya pertikaian, apalagi dengan tidak adanya sosok pemimpin yang dapat mempersatukan ideologi yang telah memecah belah persatuan. Sehingga keamanan negeri tidak lagi bisa terjamin dengan baik dan terjadinya perampokan dimana-mana. Kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh umat Kristiani untuk menyusun kekuatan. 
c.    Krisis Ekonomi
Dalam situasi yang semakin sulit, umat Kristiani tidak lagi jujur membayarkan upetinya kepada penguasa Islam. Dengan berbagai dalih, supaya upeti dan pajak tidak lagi dikumpulkan kepada penguasa. Sering terjadi perampokan yang di skenario oleh kelompok Kristiani, dan pada akhirnya menuduh umat Islam yang berbuat aniaya kepadanya. Keadaan yang tidak kondusif ini membuat pendapatan negara jauh berkurang, dan akhirnya berdampak besar kepada masyarakat. Padahal dipertengahan kekuasaan Islam, pemerintah lebih memperhatikan kemajuan dan lupa menata perekonomian, sehingga melemahkan ekonomi negara dan kekuatan militer serta politik. 
d.   Peralihan Kekuasaan
Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ketangan Ferdinand dan Isabella. Sementera dikalangan Islam sendiri terjadi perpindahan kekuasaan dengan sistem ahli waris. Pola yang masih dipertahankan umat Islam dalam mengganti tampuk kepemimpinan kadang jauh dari kelayakan. Sebagaimana bukti sejarah yang mengangkat seorang raja atas pertimbangan keturunan yang masih berusia belasan tahun. Peralihan kekuasaan seperti ini (raja yang masih berusia belia) sering keliru dalam mengambil keputusan dan kadang kala terdapat kesalahan besar dan fatal akibatnya, baik terhadap pamornya, maupun kestabilan kedaulatan dalam negeri Islam sendiri. Dengan demikian tidak ada lagi kekuatan islam untuk membendung kebangkitan Kristen di daerah ini.
2.    Sejarah Islam di Sisilia
Sisilia adalah pulau terbesar di Laut Tengah (Mediterranean Sea) dan masuk dalam wilayah Italia. Palermo adalah ibu kotanya. Islam di Sisilia berkuasa selama kurang lebih empat abad (827-1194 M). Keseluruhan Islam di Sisilia di bawah kekuasaan tiga dinasti, yaitu dinasti Aqlab (827-909 M), disusul dinasti Fathimiah (1909-1091 M), dan akhirnya dinasti Qalbi (1091-1194 M). Kemudian orang-orang Norman berhasil merebut seluruh wilayah Sisilia dari umat Islam. Penyerbuan pertama ke Sicilia pada tahun 827 M dibawah pimpinan Asad bin Al-Furat dari Afrika utara. Pada waktu itu Afrika utara diperintah oleh Amir Aghlab III yakni Ziyadatullah. Dari sinilah dimulainya sejarah baru Islam di Sicilia. Asad bin al-Furat gugur dalam usaha pengepungan kota benteng Syrocuse. Kemudian kepemimpinan diganti oleh Muhammad bin Abi al Jawairi, namun tidak berhasil dan akhirnya pasukan kembali ke Afrika utara. [4]
Kota Palermo dapat ditundukan pasukan kaum muslimin pada 12 September 831 M, setelah dilakukan usaha pengepungan selama satu tahun. Daerah Palermo selanjutnya menjadi pusat penaklukan. Untuk menduduki Palermo maka Ziyadatullah mengangkat Abu Muhammad bin Abdullah menjadi wali Sicilia pada tahun 832 M. Sicilia setelah dikuasai oleh umat islam banyak sekali perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan, banyak para ilmuan muncul dari wilayah ini, diantaranya: Muhammad bin Khurasan, Ismail bin Khalaf yang menulis kitab al-‘Uyun fi al-Qira’at, Abul Abbas yang merupakan seorang ahli hadits, Bakh Muhammad bin Ibrahim at-Tamimi seorang sufi, Ibn Farra, Musa Bin Hasan, Abd al-Haqq bin Muhammad dan Ibn Za’far, Al-Mazari yang merupakan seorang ahli ilmu kalam, Ali Hamzah Al-Basri seorang yang ahli dalam bidang sastra.[5]          
B.       POLA PENDIDIKAN ISLAM DI ANDALUSIA
Kehebatan sistem pendidikan di Andalusia menyebabkan Andalusia menjadi salah satu Negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik pada zamannya hal ini dikarenakan faktor-faktor berikut :
1. Adanya dukungan dari penguasa, membuat pendidikan Islam cepat sekali majunya, karena penguasa sangat mencintai ilmu pengetahuan dan berwawasan jauh ke depan.
2. Adanya beberapa sekolah dan universitas di beberapa kota di Spanyol yang sangat terkenal (Universitas Cordova, Sevilla, Malaga, dan Granada).
3. Banyaknya para sarjana Islam yang datang dari ujung Timur dan ujung Barat wilayah islam dengan membawa berbagai buku dan berbagai gagasan. Ini menunjukkan bahwa,  meskipun umat Islam terdiri dari beberapa kesatuan politik, terdapat juga apa yang di sebut kasatuan budaya Islam.
4. Adanya persaingan antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Kompetisi dalam bidang ilmu pengetahuan dengan didirikannya Universitas Cordova yang menyaingi Universitas Nizamiyah di Baghdad yang merupakan persaingan positif, tidak selalu dalam peperangan.
5.  Pemerintah juga memberikan subsidi yang banyak terhadap pendidikan, yakni dengan murahnya buku-buku bacaan, atau diberikan penghargaan yang tinggi berupa emas murni kepada penulis atau penerjemah buku, seberat buku yang diterjemahkannya.
Pada masa kejayaan Islam di Andalusia pusat-pusat pendidikan berada pada kuttab-kuttab, dan perguruan tinggi.
1.    Kuttab
Kuttab adalah sebuah lembaga pendidikan dasar yang mengajarkan cara membaca dan menulis kepada anak-anak atau remaja, kemudian meningkat pada pengajaran pengetahuan Al-Qur’an dan pengetahuan dasar.[6] di Andalusia terdapat banyak kuttab-kuttab yang menyebar sampai ke pinggiran kota. Pada lembaga ini, para siswa mempelajari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, seperti fikih, bahasa dan sastra, musik, dan kesenian. Kuttab termasuk lembaga pendidikan terendah yang sudah tertata dengan rapi di saat itu, sehingga kuttab-kuttab itu mempunyai banyak tenaga pendidikan dan siswa-siswanya. Pada lembaga ini siswa-siswanya mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan diantaranya adalah:
a.    Fikih
Pemeluk Islam di Andalusia menganut mazhab Maliki, maka para ulama memperkenalkan materi-materi fikih dari mazhab imam Malik. Tokoh-tokoh yang termasyhur disini diantaranya Ziyad ibnu Abd Ar-Rahman dan dilanjutkan oleh Ibn Yahya. Yahya sempat menjadi kadi pada masa Hisyam ibn Abd Rahman, dan masih banyak nama-nama lain, seperti Abu Bakar ibn al-Qutiyah, Munzir Ibn Said al Baluthi, dan Ibn Hazm yang sangat populer di kala itu.[7]
b.    Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab menjadi bahasa resmi umat Islam di Spanyol, bahasa ini dapat dipelajari di kuttab, bahkan kepada siswanya diwajibkan untuk selalu melakukan dialog dengan memakai bahasa resmi Islam (bahasa Arab), sehingga bahasa ini menjadi cepat populer dan menjadi bahasa keseharian. Tokoh-tokoh bahasa itu antara lain Ibn Sayidih, Ibn Malik yang mengarang Al-fiyah, Ibn khuruf, Ibn al-Hajj, Abu Ali al-Isyibili, Abu al-Hasan ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Gharnathi. Di bidang sastra tersohor nama Ibn Abd. Rabbih dengan karya al-'Iqd al- Farid, Ibn Bassam dengan karyanya al-Dzakhirah fi Mahasin ahl al-Jazirah, dan Al- F ath ibn Khaqan dengan karyanya kitab al-Qalaid, dan lain-lain.[8]
c.    Musik dan Seni
Di Spanyol berkembang musik-musik yang bernuansa Arab yang merangsang tumbuhnya nilai-nilai kepahlawanan. Banyak tokoh musik dan seni bermunculan ketika itu, diantaranya, Al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Ziryab (789-857). Ziryab selalu tampil pada acara-acara penjamuan kenegaraan di Cordova, karena ia merupakan aransemen musik yang handal dan piawai pula mengubah syair-syair lagu yang pantas dikonsumtifkan kepada seluruh lapisan dan tingkat umur.[9]
2.    Perguruan Tinggi
Universitas Cordova berdiri megah dan menjadi Ikon Spanyol, sehingga Spanyol termasyhur ke seluruh dunia. Universitas ini tegak bersanding dengan Masjid Abdurrahman III, yang pada akhirnya berkembang menjadi lembaga pendidikan tinggi yang terkenal yang setara dengan universitas Al Azhar di Cairo dan universitas Nizamiyah di Baghdad. Perguruan tinggi ini telah menjadi pilihan utama bagi generasi muda yang mencintai ilmu pengetahuan, baik dari belahan Asia, Eropa, Afrika, dan belahan dunia lainnya. Perpustakaannya saat itu menampung kurang lebih empat juta buku yang mencakup berbagai disiplin ilmu. Buku-buku ini dikonsumtifkan untuk seribu lebih mahasiswa yang sedang menuntut ilmu. Selain itu, terdapat juga universitas Sevilla, Malaga, dan Granada. Pada perguruan tinggi ini diajarkan ilmu kedokteran, astronomi, teologi, hukum islam, kimia, dan lain-lain. Pada lembaga ini terdapat para pengajar yang cukup dikenal diantaranya yaitu Ibn Qaitbah yang dikenal sebagai ahli tatabahasa, Abu Ali Qali yang ahli dibidang biologi. Namun, secara garis besar pada perguruan tinggi di Spanyol terdapat dua konsentrasi ilmu pengetahuan, yaitu:
a.    Filsafat
Universitas Cordova mampu menyaingi Baghdad, salah satu diantaranya, karena mampu mengimpor ilmu filsafat dari belahan Timur dalam jumlah besar, sekalipun bagdad termasuk pusat ilmu pengetahuan Islam. Sehingga beberapa waktu sesudahnya melahirkan filosof-filosof besar dengan karya-karya emasnya. Ibnu Bajjah adalah filosof muslim yang pertama dan utama dalam sejarah kefilsafatan di Andalus. Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad ibnu Yahya ibnu Al-Sha’ig , yang lebih terkenal dengan nama Ibnu Bajjah. Orang barat menyebutnya Avenpace. Ia dilahirkan di Saragossa (Spanyol) pada akhir abad ke-5 H/ abad ke-11 M. Tokoh lainnya ialah Abu Bakar Ibnu Thufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi, dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay Ibn Yaqzhan. Pada akhir abad ke-12 masehi muncul seorang pengikut Aristoteles yang terbesar dalam kalangan filsafat islam, dia adalah Abu al-Walid Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad Ruyd dilahirkan di Cordova, Andalus pada tahun 510 H/1126 M, yang terkenal dengan nama Ibn Rusyd. Kepiawaiannya yang luar biasa dalam ilmu hukum, sehingga dia diangkat menjadi ketua Mahkamah Agung di Cordova (Qadhi al-Qudhat). Karya besarnya yang termasyhur adalah Bidayah al-Mujtahid.[10]
b.    Sains
Tercatat nama Abbas ibn Farnas yang termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ia adalah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Perkembangan sains pada daerah ini diikuti pula oleh ilmu kedokteran, matematika, kimia dan musik serta ilmu lainnya, bahkan ada ilmuwan wanita yang ahli kedokteran yaitu Umm al-Hasan binti Abi Ja’far.
C.      POLA PENDIDIKAN ISLAM DI SISILIA
1.      Kuttab
Kuttab adalah lembaga pendidikan terendah yang banyak terdapat di Sisilia. Di sini anak belajar menulis, berhitung dan bahasa Arab. Di kota Palermo terdapat 300 orang guru kuttab, jumlah ini termasuk hitungan yang sangat banyak pada masa itu.
2.      Perguruan Tinggi
Di Sisilia terdapat perguruan tinggi yang mereka samakan namanya dengan kotanya "Palermo". Perguruan tinggi ini dapat menjawab semua harapan perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu dengan adanya pusat kajian sains dan teknologi yang modern di kala itu, ini pulalah yang menjadi cikal bakal muncul dan menjalarnya ilmu pengetahuan di benua Eropa, terutama di Itali dan kota-kota lainnya. Sisilia telah menorehkan sejarah yang tak dapat didustakan untuk peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan, karena pada daerah ini telah menetaskan ulama-ulama besar yang melahirkan karya-karya besar.
Dalam bidang bahasa dan nahwu, ilmu-ilmu al-Qurán dan Hadits dikenal nama Muhammad bin Khurasan ia wafat di Sisilia pada tahun 996 M, juga Ismail bin Khalaf, pengarang Kitab al-Uyun fi al-Qiraát, kitab ini masih terhimpun di sebuah perpustakaan di Berlin dan Istambul, ia wafat 1063 M, sedangkan ahli hadist tekenal adalah Abu al-Abbas, abu Bakar Muhammad bin Ibrahim al-Tamimi, ia juga murid al-Junaidi dalam tasawuf. Tokoh lain dalam bidang hadis adalah ibnu al-Farrah dan Musa bin Hasan. Dalam Ilmu Kalam tekenal nama abu al-Haqq bin Muhammad ibnu Zaffar dan Mazari, dalam bidang sastra terkenal nama Ali Hamzah al-Bashri, pengarang al-Mutanabbi sastrawan arab klasik.[11]
Faktor pendukung semakin majunya sistem pendidikan di Sisilia adalah :
·   Para penguasa muslim di Sisilia adalah orang pecinta ilmu dan berwawasan luas. Mereka mengirim siswa-siswa berbakat untuk belajar di universitas-universitas terkemuka di dunia Islam.
·      Menggaji para dosen, peneliti, dan ilmuan.
·      Membebaskan para dosen, peneliti, dan ilmuan dari wajib militer.
·      Migrasi para ilmuan, peneliti, dosen dan guru dari berbagai penjuru dunia Islam ke Sisilia, karena tertarik dengan tunjangan yang memadai. Seperti Ali ibn Hamza Al-Basri seorang ahli bahasa yang terkenal sekaligus ahli rawi-rawi tentang para penyair Arab klasik yang berasal dari Afrika Utara.[12]
Dari beberapa faktor penyebab majunya pendidikan Islam di Sisilia, tidak terlepas dari sosiokultural masyarakat ketika itu yang sangat haus dan mencintai ilmu pengetahuan. Di sisi lain belahan Eropa waktu itu berada dalam kegelapan dan di ambang keterbelakangan, sehingga keadaan itu menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah Sisilia. Sangat dapat dipahami bahwa kebijakan dan perhatian pemerintah Sisilia untuk kemajuan bidang pendidikan, telah pula berdampak besar bagi orang-orang yang hidup di zaman sekarang. Semua itu tentu akan dapat dijadikan mutiara berharga bagi umat yang mau menjadikan pelajaran, bagaimana kiat-kiat untuk memajukan pendidikan, dan peluang besar juga untuk ditiru oleh pemerintah yang ada sekarang.
                                               
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.    Masuknya Islam  di Andalusia dari tahun 711-1492 M (781 tahun) dan di Sisilia dari tahun 827-1194 M (367 tahun) tidak terlepas dari perluasan wilayah yang dicanangkan oleh khalifah daulah umayyah dengan melalui jalur Afrika Utara yang membuat kedua wilayah itu terkenal di dunia baik dibidang pendidikan maupun dibidang peradaban.
2.    Baik di Andalusia maupun di Sisilia pola pendidikan Islam yang diselenggarakan pada dasarnya terdiri dua tingkatan yaitu di Kuttab yang mempelajari pengetahuan dasar dan menengah misalnya Al-Qurán, fikih, bahasa Arab dan  kesenian sementara di Perguruan Tinggi mengarah pada disiplin ilmu khusus misalnya agama, sains dan teknologi.
3. Di Andalusia inilah lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Agama Islam, Kedokteran, Filsafat, Ilmu Hayat, Ilmu Hisab, Ilmu Hukum, Sastra, Ilmu Alam, Astronomi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu dengan segala kemajuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, kebudayaan serta aspek-aspek ke-islaman, Andalusia kala itu boleh dikatakan sebagai pusat kebudayaan Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tiada tandingannya setelah Konstantinopel dan Bagdad. Maka tak heran waktu itu pula bangsa-bangsa Eropa lainnya mulai berdatangan ke negeri Andalusia ini untuk mempelajari berbagai Ilmu pengetahuan dari orang-orang Muslim Spanyol, dengan mempelejari buku-buku buah karya cendekiawan Andalusia baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.
4.    Sisilia adalah sebuah pulau di laut tengah, letaknya berada di sebelah selatan semenanjung Italia, dipisahkan oleh selat Messina . Sisilia yang pernah dikuasai Islam dari tahun 881 M s/d 1091 M. Perkembangan sains dan teknologi serta kehidupan intlektual di Sisilia tidak berbeda dengan gerakan intelektual di Andalusia  dan dunia Islam saat itu pada umumnya, sebagaimana di Toledo Andalusia, kota Palermo merupakan tempat yang penting bagi kegiatan penterjemahan buku-buku ulama Islam ke dalam bahasa latin..

DAFTAR ISI
Abdul Kodir, Sejarah Pendidikan Islam; Dari Masa Rasulallah hingga Reformasi di Indonesia, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2015.
Ahmad Masrul Anwar, “Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa Bani Ummayah”, JURNAL TARBIYA Volume: 1 No: 1 2015.
Kiki Muhamad Hakiki, “Politik Islam di Sicilia”, Jurnal TAPIs Vol.7 No.12 Januari-Juli 2011.
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, UI Press, Jakarta 1985.
Abdul Kodir, Sejarah Pendidikan Islam; Dari Masa Rasulallah hingga Reformasi di Indonesia, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2015.
Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam,   Kencana,  Jakarta,  2007.
Abudin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik dan Pertengahan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010.
Sukarno Karya, Ensiklopedia Mini, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1996.
M. Misbahuddin, “Sicilia: Jembatan Transmisi Keilmuan Islam ke Eropa”, Jurnal Khatulistiwa – Journal of Islamic Studies, Volume 5 Nomor 1 Maret 2015.





[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, UI Press, Jakarta 1985, hlm. 62
[2] Abdul Kodir, Sejarah Pendidikan Islam; Dari Masa Rasulallah hingga Reformasi di Indonesia, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2015, Hlm. 97-98.
[3] Ahmad Masrul Anwar, “Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam pada Masa
Bani Ummayah”, JURNAL TARBIYA Volume: 1 No: 1 2015 (47-76), Hlm. 66-67.
[4] Kiki Muhamad Hakiki, “Politik Islam di Sicilia”, Jurnal TAPIs Vol.7 No.12 Januari-Juli 2011, hlm. 17 – 18.
[5] Ibid, hlm. 26.
[6] Abdul Kodir, Sejarah Pendidikan Islam; Dari Masa Rasulallah hingga Reformasi di Indonesia, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2015, Hlm. 43-44
[7] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam,   Kencana,  Jakarta,  2007, Hlm. 98.
[8] Ibid, hlm. 98-99.
[9] Ibid, hlm. 99.
[10] Abudin Nata, Sejarah Pendidikan Islam: Pada Periode Klasik dan Pertengahan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010Hlm. 266-267.
[11] Sukarno Karya, Ensiklopedia Mini, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1996, hlm. 361.
[12] M. Misbahuddin, “Sicilia: Jembatan Transmisi Keilmuan Islam ke Eropa”, Jurnal Khatulistiwa – Journal of Islamic Studies, Volume 5 Nomor 1 Maret 2015, hlm. 37-39.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tulis komentar anda