Minggu, 09 Juli 2017

INTEGRASI PAI DAN SAINS

INTEGRASI PAI DAN SAINS
(Tinjauan Falsafi Ilmiah)

A.      PENDAHULUAN
Seiring dengan berkembangnya zaman dan semakin majunya peradaban serta teknologi manusia, maka semakin berkembang pula ilmu pengetahuan (sains) di segala bidang keilmuan. Inilah yang sering membuat masyarakat modern dewasa ini lebih cenderung menyukai, mempelajari ilmu pengetahuan umum (sains) dari pada ilmu agama karena mereka memiliki kecenderungan rasionalistis, realistis, ilmiah dan bersifat materialistis, mereka juga sebagian besar beranggapan ilmu agama ketinggalan zaman. Begitu juga sebaliknya, sebagian besar umat islam juga enggan mempelajari Ilmu pengetahuan umum (sains) karena beranggapan sains modern dapat merusak aqidah dan banyak yang tidak sesuai syariat islam serta tidak berpahala mempelajarinya dan tidak ada manfaatnya kelak diakhirat. Sehingga bidang keilmuan umat islam untuk menciptakan peradaban islami yang modern tertinggal jauh dengan umat lain.
Pemahaman yang beragam inilah yang perlu dibenarkan. Sejatinya islam tidak pernah melarang adanya perkembangan ilmu pengetahuan umum (sains) dan tidak pula beranggapan haram mempelajarinya, bahkan Islam menganjurkan umatnya untuk memikirkan dan mempelajari segala sesuatu fenomena yang ada di alam semesta ini dengan pembuktian kebenaran secara ilmiah apa yang telah tertuang didalam Al-qur’an. Sehingga menjadikan umat islam cerdas pemikirannya, tinggi peradabannya dan kuat keimanannya. Begitu pula ketika masyarakat islam di dunia modern dewasa ini dalam mempelajari sains perlu juga di bekali dengan pengetahuan agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits supaya mereka tidak terlalu condong kepada sifat materialistis keduniawian serta memiliki filter alami berupa kepekaan batin terhadap situasi disekitarnya.
Maka dari kita sebagai seorang pendidik agama islam perlu memiliki pengetahuan yang cukup tentang sains sehingga mampu memahami proses dan prosedur integrasi PAI dengan ilmu pengetahuan umum (sains). Untuk itu dalam artikel ini kami akan memberikan pembahasan mengenai integrasi PAI dan sains. Diharapkan dengan adanya pembahasan ini umat islam dapat memaknai islam sebagai agama yang mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan.

B.       RUMUSAN MASALAH
1.      Konsep pendidikan, agama Islam dan sains
2.      Hubungan pendidikan, agama islam dan sains
3.      Konsep Integrasi PAI dan sains
4.      Mekanisme dan tujuan Integrasi PAI dan sains.

C.      PEMBAHASAN
1.      Konsep Ilmu Pendidikan, Agama Islam dan Sains
Pada dasarnya setiap cabang keilmuan memiliki beberapa konsep, karakteristik, metodologi, dan cara pengembangan serta penyampaian yang berbeda. Begitu juga dengan ilmu pendidikan, agama Islam dan sains tentu dilandasi dengan dasar yang berbeda, dikarenakan ketiganya memiliki karakteristik dan para ahli yang menguasai bidangnya masing-masing. Meskipun sebenarnya diantara ketiganya memiliki hubungan dan mampu di integrasikan satu sama lain.

 













a.    Konsep ilmu pendidikan
        Ilmu pendidikan dirumuskan dan dikembangkan oleh manusia sejak berabad yang lalu hingga sekarang. Menurut Plato pendidikan adalah cara mengasuh jasmani, rohani supaya sampai kepada keindahan dan kesempurnaan yang dapat dicapai. Jules Simon mengatakan pendidikan ialah jalan untuk merubah akal menjadi akal yang lain dan merubah hati menjadi hati yang lain[1]. Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan[2].
        Ilmu pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari cara-cara mengasuh anak mencapai status manusia dewasa, kedewasaan diartikan sebagai kemampuan mengambil keputusan mengenai diri sendiri dan mampu mempertanggung jawabkan  kepada dirinya sendiri pula[3]. Ilmu pendidikan termasuk ilmu pengetahuan empiris karena obyeknya adalah situasi pendidikan yang terdapat pada dunia pengalaman. Ilmu pendidikan ialah ilmu yang normatif karena berdasar atas pemilihan antara yang baik dan yang tidak baik untuk manusia pada umumnya. Ilmu pendidikan adalah ilmu pengetahuan praktis karena yang diuraikan didalam ilmu tersebut dilaksanakan didalam kegiatan pendidikan. Jadi ilmu pendidikan merupakan suatu ilmu yang berdiri sendiri yang memenuhi sifat-sifat ilmiah dari ilmu pengetahuan[4].
b.    Konsep agama Islam
        Dalam sudut pandang umat islam, islam merupakan satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah, serta memiliki dogma ajaran dan landasan hukum yang wajib di imani dan dijalankan oleh umatnya untuk mencapai keselamatan hidup di dunia dan akhirat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran : 19

Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.[5]
Surat Al-Ma'idah : 3

Artinya : Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..[6]
c.    Konsep sains
Sains merupakan kata benda “Noun” yang berarti ilmu pengetahuan atau pengetahuan yang sistematis tentang alam dan dunia fisik. Sains  diperoleh dari hasil observasi, penelitian, dan uji coba yg mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki dan dipelajari.[7]
Sains dikembangkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup menuju kepada peradaban dan kualitas hidup yang lebih baik. Tokoh sains barat antara lain Albert Einsten, Galileo Galilei, Isaac Newton, James Watt, Louis Pasteur, Thomas Alva Edison. Sedangkan di dunia Islam kita kenal antara lain Ibnu Battutah, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Ibnu Khaldun. Para tokoh diatas selain ahli dalam bidangnya mereka juga menguasai ilmu lain, dalam artian mereka mampu mengintegrasikan satu cabang ilmu dengan ilmu lain sehingga mampu memberikan perubahan yang lebih bervariasi dan bermanfaat dalam bidang keilmuan masing-masing. Seperti contoh Ibnu Khaldun tersohor sebagai bapak sosiologi dan ekonomi islam, beliaulah penggagas pertama ilmu ekonomi empiris (sistem harga, hukum penawaran permintaan, tata nilai. Konsumsi, produksi, modal) dalam merumuskan suatu teori ternyata beliau mengintegrasikan berbagai ilmu seperti sosiologi, agama, ekonomi dan sebagainya.[8]

2.      Hubungan pendidikan, agama Islam, dan sains
a.       Hubungan agama Islam dengan pendidikan
Pendidikan berorientasi pada cara menyampaikan suatu ilmu / pengetahuan dengan menggunakan metode / strategi pengajaran yang tepat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sedangkan agama islam berisi ajaran, doktrin dan tuntunan bagi umat islam dalam menjalani kehidupan di dunia agar sesuai syariat yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits sebagai bekal menuju kehidupan di akhirat. Dalam menyampaikan ajaran agama islam kepada orang lain, diperlukan metode / strategi yang tepat supaya penyampaian ajaran keagaaman itu sesuai yang diharapkan agama dan tidak mengalami kesalahan persepsi / pemahaman, tepat sasaran, mencapai tujuan dan bisa diterima serta di amalkan. Untuk mencapai tujuan keagamaan tersebut maka diperlukan cara pengajaran yang tepat berupa ilmu pendidikan, disinilah letak hubungan erat keduanya. Sehingga di era sekarang kita mengenal ilmu pendidikan agama Islam (PAI) / pendidikan Islam.
Pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi. Karena luasnya jangkauan yang harus digarap oleh pendidikan Islam maka pendidikan Islam tetap terbuka terhadap tuntutan kesejahteraan umat manusia baik tuntutan di bidang IPTEK maupun kebutuhan rohaniah sehingga pendidikan Islam berwatak akomodatif terhadap perubahan zaman sesuai norma-norma kehidupan Islam.[9]
b.      Hubungan pendidikan dengan sains
Sains merupakan ilmu tentang pembuktian suatu kebenaran / teori / hukum-hukum alam dan sosial secara ilmiah untuk mengetahui, mencari dan menyelesaikan permasalahan yang ada di alam maupun sosial kemasyarakatan sehingga lebih banyak berorientasi pada penelitian / kegiatan ilmiah. Dalam menyampaikan dan mengajarkan hasil penelitian ilmiah kepada masyarakat agar lebih berguna dan bermanfaat diperlukan ilmu pendidikan yang memiliki strategi tepat sehingga mudah diterima, dimengerti dan dipelajari oleh masyarakat. Dunia pendidikan juga membutuhkan peran sains untuk menambah khasanah keilmuan dasi hasil penelitian sains. Disinilah letak hubungan erat keduanya dalam membentuk simbiosis mutualisme pengetahuan.
c.       Hubungan agama islam dengan sains
Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan (sains), sains dan agama merupakan karunia Allah yang semata-mata diberikan kepada umat manusia. Manusia mempunyai kecenderungan untuk menuju kearah yang benar dan suci serta tidak dapat hidup tanpa menyucikan dan memuja sesuatu, inilah kecenderungan iman yang merupakan fitrah manusia. Manusia juga memiliki kecenderungan untuk selalu memahami alam semesta serta berkemampuan memandang masa lalu, sekarang dan akan datang yang kesemuanya merupakan ciri khas ilmu pengetahuan (sains). Oleh karena itu agama Islam dan sains harus diupayakan selalu sejalan dan islam adalah agama yang memadukan keduanya.[10]
Islam sebagai sebuah agama memiliki sumber dasar hukum berupa Al-Qur’an dan Hadits Nabi, didalam kedua sumber hukum ini banyak tersirat ajaran, dogma, hingga semua ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia baik yang bersifat ilmu sosial, alam, matematis dan sebagainya. Akan tetapi  pembahasan keilmuan dalam Al-Qur’an dan Hadits menggunakan gaya bahasa yang singkat, menantang serta membutuhkan penelitian dan pemikiran yang lebih lanjut dari manusia. Untuk membuktikan kebenaran dalam ajaran islam maka dibutuhkan sebuah penelitian yang bersifat ilmiah, dimana hasil dari penelitian tersebut akan mampu membuktikan keaslian Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah SWT. Disinilah letak hubungan sains dengan agama Islam, sains sebagai pembukti kebenaran secara ilmiah apa saja yang terkandung di dalam Al-Qur’an sehingga masyarakat dapat mempercayai akan kebenaran ajaran Islam.

3.      Konsep Integrasi PAI dan sains
Integrasi berasal dari bahasa Inggris Integrate, Integration yang kemudian diadaptasi kedalam bahasa Indonesia menjadi integrasi yang berarti menyatu padukan, penggabungan.[11] Berdasarkan arti etimologisnya itu, integrasi dapat diartikan sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat.[12] Untuk lebih memahami makna integrasi, amatilah gambar dibawah ini :
Sains  yang berbasiskan pada penalaran akal dan data ilmiah mengalami perkembangan yang lebih pesat dibandingkan ilmu – ilmu agama Islam. Sains ini secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
a.  Sains yang bersifat naturalis, obyek kajian sains ini berupa alam raya dan fisik. Yang termasuk sains ini adalah ilmu fisika, biologi, kedokteran, astronomi dan sebagainya.
b.    Sains yang bersifat sosiologis, obyek kajian ilmu ini berupa perilaku sosial manusia. Yang termasuk sains ini ialah sosiologi, politik, antropologi, pendidikan, komunikasi, psikologi dan sebagainya
c.  Sains yang bersifat penalaran, obyek kajiannya berupa filosofis penalaran. Yang termasuk ilmu ini ialah filsafat, logika, seni dan sebagainya.[13]
Dewasa ini antara ilmu pendidikan dengan agama Islam di Indonesia telah berintegrasi dan membentuk suatu ilmu baru berupa Ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI). Untuk itu proses integrasinya tidak kami bahas dalam pembahasan ini. Pendidikan agama Islam (PAI) sebagai Mapel wajib ditingkat SD, SMP, SMA dan sederajat serta menjadi mata kuliah umum (MKU) di perguruan tinggi (PT) umum tentunya sangat berperan sebagai penopang satu-satunya ilmu keagamaan di sekolah-sekolah / PT umum di Indonesia.
Peran strategis PAI untuk membentuk karakter / kepribadian islami siswa dan mengajarkan ilmu keislaman di sekolah / PT umum di Indonesia baik yang berstatus swasta maupun negeri membutuhkan sentuhan strategi pengajaran yang berbeda dibandingkan dengan sekolah atau PT agama Islam (PTAI). Perbedaan itu terletak pada kuantitas muatan keagamaan yang sangat terbatas di sekolah / PT umum jika di bandingkan dengan sekolah / PTAI, karena di sekolah / PT umum muatan keagamaan hanya terdapat pada Mapel / Makul PAI dan didominasi oleh muatan umum sesuai jurusan sekolah / PT tersebut. Permasalahan lainnya adalah input dan minat siswa tentang ilmu agama Islam juga sangat minim. Akan tetapi hal positifnya ialah minat dan kesempatan siswa mempelajari sains lebih besar sehingga dapat diarahkan pada pengembangan sains sesuai nilai-nilai keislaman serta belajar membuktikan secara ilmiah apa yang terkandung didalam Al-Qur’an dan Hadits.
Tantangan bagi guru / dosen PAI di era globalisasi ialah disatu sisi memiliki kewajiban mengajarkan agama islam yang sangat luas pembahasannya disatu sisi bagaimana menyesuaikan pembahasan materi PAI dengan muatan sains yang ada sesuai jalur pendidikan yang ditempuh siswa supaya minat, motivasi siswa semakin tinggi serta mereka mampu berfikir dan membuktikan secara ilmiah kebenaran ajaran agama sehingga meningkatkan kesadaran keimanan mereka. Disinilah konsep integrasi PAI dan Sains berlaku yaitu dengan memasukkan nuansa sains didalam pembelajaran PAI. Lihat gambar di bawah ini:
                   
Konsep / rancangan integrasi PAI dan sains tidak hanya berlaku di sekolah / PT umum saja tapi diharapkan dapat diterapkan di sekolah / PT agama islam sesuai dengan cabang keilmuan masing – masing untuk lebih meningkatkan kualitas dan daya saingnya. Proses integrasi PAI dan Sains tidak serta merta harus meleburkan dua keilmuan itu menjadi satu cabang ilmu baru namun lebih kepada  proses penalaran / pemikiran secara kontekstual ajaran-ajaran islam dengan disertai teori atau penemuan secara ilmiah sehingga keaslian ilmu PAI dan sains tetap terjaga serta bisa menjadi control satu sama lain. Konsep integrasi PAI dan sains hampir sama dengan konsep kurikulum 2013 dimana satu muatan keilmuan bisa disisipi oleh muatan keilmuan lainnya yang saling berhubungan / relefan sehingga terjalin pemikiran yang utuh dan saling menyambung serta melengkapi.

4.      Mekanisme dan Tujuan Integrasi PAI dan Sains
Untuk dapat lebih memahami tentang konsep integrasi PAI dan sains maka kita perlu mengetahui mekanisme / proses terjadinya integrasi PAI dan sains serta tujuan dari integrasi PAI dan sains.
a. Mekanisme integrasi PAI dan Sains
Proses terjadinya integrasi PAI dan Sains dilandasi hubungan simbiosis mutualisme antara agama islam, ilmu pendidikan dan sains yaitu saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain untuk mengisi kekosongan materi keilmuan di masing-masing bidang kajian.
Pendidikan sebagai bidang keilmuan tentang cara penyampaian pengajaran dan pembelajaran yang tepat untuk diterapkan di bidang keilmuan masing-masing. Sedangkan agama islam sebagai bidang keilmuan tentang ajaran-ajaran agama membutuhkan konsep ilmu pendidikan untuk mengajarkan kepada masyarakat namun tidak menghilangkan konteks ajaran keagamaan itu, agama islam hanya membutuhkan konsep pendidikan bagaimana cara mengajarkan ilmu keagamaan yang lebih efisien efektif dan mampu di terima masyarakat modern dewasa ini. Begitu pula ilmu pendidikan membutuhkan keilmuan agama islam untuk lebih memperkaya khasanah keilmuan dan metode pengajarannya.
Sedangkan Sains berfungsi meneliti tentang perkembangan kajian PAI (agama Islam dan ilmu pendidikan) secara ilmiah yang digunakan untuk meningkatkan kajian sains sendiri, begitu juga PAI membutuhkan hasil kajian ilmiah Sains untuk meningkatkan kualitas materi pembelajaran PAI.
b.      Tujuan integrasi PAI dan Sains
Asumsi umat islam bahwa sains yang berasal dari negara barat dianggap sebagai pengetahuan yang sekuler sehingga ilmu tersebut harus ditolak merupakan asumsi yang tidak tepat. Sains yang sebenarnya merupakan hasil pembacaan manusia terhadap ayat-ayat Allah SWT, apabila sains kehilangan dimensi spiritualnya akan mengakibatkan malapetaka yang merugikan manusia.[14] Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara mengintegrasikan intern ilmu agama dan sains, upaya ini sudah dikembangkan oleh PTAI yang mulai mencoba inklusif menerapkan metode integrasi keilmuan dalam pembelajarannya.
Tujuan dari integrasi PAI dan sains adalah mampu menciptakan karakter peserta didik yang berbudi pekerti islami serta memiliki motivasi dan visi pengembangan sains demi peningkatan kualitas hidup masyarakat islam menuju peradaban sains yang tinggi berlandaskan asas islam.

D.      KESIMPULAN
1.    Konsep ilmu pendidikan, agama Islam dan sains
a.    Ilmu pendidikan merupakan ilmu tentang cara mengajarkan suatu materi pelajaran kepada siswa untuk membentuk karakter siswa yang berbudaya.
b.  Agama Islam sebagai salah satu agama samawi yang berasal dari Allah untuk umat manusia yang mengandung ajaran / dogma yang wajib di taati oleh umatnya.
c.    Sains merupakan ilmu yang berusaha mencari kebenaran dengan cara pembuktian secara logika disertai cara-cara yang ilmiah.
2.    Hubungan ilmu pendidikan, agama Islam dan sains
a.     Ilmu pendidikan membutuhkan materi agama Islam dan sains untuk memperkarya materi pembahasan dan khasanah keilmuannya..
b.  Agama Islam membutuhkan konsep pengajaran dari ilmu pendidikan sebagai sarana mempermudah dalam menjelaskan ajaran agama kepada manusia.
c.    Agama Islam membutuhkan peran sains dalam pembuktian secara ilmiah kebenaran dari kandungan Al-Qur’an dan Hadits.
d.  Sains memerlukan materi dari agama Islam sebagai bahan materi dalam penelitian dan pengujian ilmiah serta pengontrol dan penyeimbang dari kesesatan logika.
3.    Konsep integrasi PAI dan sains dengan cara satu / beberapa muatan keilmuan PAI bisa disisipi oleh muatan keilmuan sains yang saling berhubungan / relefan sehingga terjalin pemikiran yang utuh, saling menyambung, melengkapi dan mengontrol.
4. Mekanisme proses terjadinya integrasi PAI dan Sains dilandasi hubungan simbiosis mutualisme antara agama islam, ilmu pendidikan dan sains yaitu saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain untuk mengisi kekosongan materi keilmuan di masing-masing bidang kajian.
5.   Tujuan dari integrasi PAI dan sains adalah mampu menciptakan karakter peserta didik yang berbudi pekerti islami serta memiliki motivasi dan visi pengembangan sains demi peningkatan kualitas hidup masyarakat islam menuju peradaban sains yang tinggi berlandaskan asas islam
E.       DAFTAR ISI
Mahmud Yunus, Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran, PT.Hidakarya Agung, Jakarta, 1997.
Mochtar Bukhori, Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan Dalam Renungan, PT.Tiara Wacana, Yogyakarta, 1994.
Sutari Imam Barnaib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, Andi Offset, Yogyakarta, 1995.
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Departemen Agama, Al-Qur’an Mushaf Per Kata, Jabal, Bandung.
Yayasan Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy-syarif, Madinah Al Munawarah, 1990.
Nurhasanah, Didik Tumianto, Kamus Besar Bergambar Bahasa Indonesia, PT. Bina Sarana Pustaka, Jakarta, 2007.
Iqbal M. Ambara, Teguh Sutanto, Tokoh-tokoh Super Inspiratif Pewaris Nabi, Sabil, Jogjakarta, 2012.
H.M Arifin, Ilmu Pendidikan Islam “Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner”, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2006.
Hanna Djumhana Bastama, Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995.
John M. Echlos dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.
http://artikata.com/arti-330868-integrasi.html, diakses tanggal 05 Oktober 2015
Abuddin Nata dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005.
Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta, 2002.







[1] Mahmud Yunus, Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran, PT.Hidakarya Agung, Jakarta, 1997, hlm. 5.
[3] Mochtar Bukhori, Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan Dalam Renungan, PT.Tiara Wacana, Yogyakarta, 1994, hlm. 21.
[4] Sutari Imam Barnaib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, Andi Offset, Yogyakarta, 1995, hlm.15.
[5] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Departemen Agama, Al-Qur’an Mushaf Per Kata, Jabal, Bandung, Hlm. 52.
[6] Yayasan Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy-syarif, Madinah Al Munawarah, 1990, hlm. 157.
[7] Nurhasanah, Didik Tumianto, Kamus Besar Bergambar Bahasa Indonesia, PT. Bina Sarana Pustaka, Jakarta, 2007, hlm. 645.
[8] Iqbal M. Ambara, Teguh Sutanto, Tokoh-tokoh Super Inspiratif  Pewaris Nabi, Sabil, Jogjakarta, 2012, hlm. 174-178.
[9] H.M Arifin, Ilmu Pendidikan Islam “Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner”, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2006, Hlm. 7-8.
[10] Hanna Djumhana Bastama, Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995, hlm. 146.
[11] John M. Echlos dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, hlm. 326
[12] http://artikata.com/arti-330868-integrasi.html, diakses tanggal 05 Oktober 2015
[13] Abuddin Nata dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, hlm. 1-3.
[14] Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta, 2002, hlm. 70.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tulis komentar anda